Perceraian dapat merugikan kesehatan seseorang, bahkan setelah menikah kembali. Kesimpulan ini berdasarkan studi terbaru.
Ilmuwan telah mengetahui bahwa pernikahan dapat meningkatkan kesehatan pria dan wanita. Studi terbaru menemukan bahwa perceraian atau kehilangan pasangan karena kematian dapat merenggut keuntungan mental dan fisik itu segera dan dalam jangka panjang.
"Periode selama peristiwa itu terjadi sangat membuat stres," kata peneliti Linda Waite, seorang sosiolog dan direktur Pusat Lanjut Usia di Pusat Penelitian Opini Nasional di Universitas Chicago.
"Orang-orang mengabaikan kesehatan mereka, mereka tertekan, yang menjadikan diri mereka berisiko sakit. Mereka jarang ke dokter, mereka jarang berolahraga, dan jam tidur mereka buruk."
Kesimpulannya, sekali anda mengesampingkan kesehatan anda, sulit untuk menjadi sehat kembali, bahkan jika anda kembali terikat. "Pernikahan kembali membantu. Itu membuat anda kembali pada lintasan yang sehat," ujar Waite pada LiveScience.
"Tapi itu mengembalikan anda pada jalur kesehatan dari titik yang lebih rendah, karena Anda tidak memikirkan diri sendiri selama satu tahun."
Temuan bahwa perceraian dan kematian pasangan memiliki pengaruh yang sama terhadap kesehatan seseorang menyimpulkan bahwa perceraian berpengaruh seperti sebuah peristiwa traumatis dalam kehidupan seseorang, menurut Waite.
Mark Hayward dari Universitas Texas di Austin, yang tidak terlibat dalam studi itu, juga sepakat.
"Ketajaman stres di sekitar perceraian dapat bekerja seperti trauma selama bertahun-tahun dan kondisi stres rendah menahun," kata Hayward, yang juga merupakan direktur Pusat Riset Kependudukan di universitas yang sama.
Studi itu menyimpulkan kesehatan dapat berubah oleh titik balik besar dalam kehidupan seseorang, seperti perceraian, dari titik di mana seseorang tidak akan pulih," kata Hayward.
Waite dan Mary Elizabeth Hughes dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health di Maryland menganalisis data yang dikumpulkan dari hampir 9.000 orang dewasa usia 51-61 yang ikut ambil bagian dalam Studi Kesehatan dan Pensiunan.
Secara keseluruhan, sekitar 20 persen dari peserta telah menikah kembali, yang berarti mereka sebelumnya sudah bercerai atau janda. Para peneliti akan melaporkannya pada bulan September di Journal of Health and Social Behavior. hampir 22 persen dari mereka yang sebelumnya menikah tidak menikah kembali. Kurang dari 4 persen tidak pernah menikah.
Senin, 10 Agustus 2009
Riset : Tidur seranjang dengan Wanita Membuat Pria Jadi Lemot
Tidur seranjang dengan wanita ternyata bisa membuat kemampuan otak pria berkurang. Demikian hasil penelitian ilmuwan Austria.
Seperti dilansir BBC beberapa waktu lalu, peneliti asal Austria mengadakan penelitian tentang kualitas tidur. Para peneliti mengumpulkan 20 pasangan yang belum dikaruniai anak. Ke-20 pasangan ini kemudian diperiksa pola tidurnya.
Masing-masing pasangan diminta untuk tidur 10 hari tanpa pasangan dan 10 hari bersama pasangan mereka. Setiap paginya mereka diberi kuisioner, diperiksa hormon stress, dan menjalani beberapa tes, termasuk tes kognitif ringan.
Nah, hasilnya.. walau pria dan wanita sama-sama mengakui lebih nikmat tidur dengan pasangan, pada pria kemampuan otaknya sedikit terganggu. Setelah tidur dengan wanita, pria kurang sukses dalam menjawab tes-tes kognitif ringan.
Nilai yang diperoleh menjadi lebih rendah ketimbang ketika tes serupa dilakukan pada saat semalamnya pria tidur tanpa didampingi pasangan mereka. Apakah pasangan tersebut bercinta atau tidak di malam sebelumnya, tak mempengaruhi hasil tes.
Menurut penelitian ini, ketika seorang pria tidur dengan pasangannya, secara tak sadar kualitas tidurnya menjadi terganggu. Hal inilah yang mempengaruhi kondisi fisik dan mental mereka keesokan harinya.
Tak hanya pria, kualitas tidur wanita juga terganggu ketika tidur bersama pasangannya, namun hasil tes koginitif wanita tetap lebih baik ketimbang rekan lawan jenisnya.
Soal kenyamanan, pria dalam penelitian ini mengaku lebih nyaman ketika tidur dengan pasangannya. Sedangkan wanita merasa tidurnya lebih nyenyak ketika ia tidur sendirian.
Setelah tidur sendirian, wanita juga lebih mudah mengingat mimpinya. Berbeda dengan para pria yang ingatannya akan mimpi mencapai tahap paling baik seusai bercinta dengan pasanganya.
Tidak mengherankan jika seseorang terganggu ketika mereka tidur bersama. Tidur adalah kegiatan paling egois yang bisa dilakukan. Tidur sangat penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental, jelas Dr Neil Stanley, Ilmuwan dari University of Surrey
Seperti dilansir BBC beberapa waktu lalu, peneliti asal Austria mengadakan penelitian tentang kualitas tidur. Para peneliti mengumpulkan 20 pasangan yang belum dikaruniai anak. Ke-20 pasangan ini kemudian diperiksa pola tidurnya.
Masing-masing pasangan diminta untuk tidur 10 hari tanpa pasangan dan 10 hari bersama pasangan mereka. Setiap paginya mereka diberi kuisioner, diperiksa hormon stress, dan menjalani beberapa tes, termasuk tes kognitif ringan.
Nah, hasilnya.. walau pria dan wanita sama-sama mengakui lebih nikmat tidur dengan pasangan, pada pria kemampuan otaknya sedikit terganggu. Setelah tidur dengan wanita, pria kurang sukses dalam menjawab tes-tes kognitif ringan.
Nilai yang diperoleh menjadi lebih rendah ketimbang ketika tes serupa dilakukan pada saat semalamnya pria tidur tanpa didampingi pasangan mereka. Apakah pasangan tersebut bercinta atau tidak di malam sebelumnya, tak mempengaruhi hasil tes.
Menurut penelitian ini, ketika seorang pria tidur dengan pasangannya, secara tak sadar kualitas tidurnya menjadi terganggu. Hal inilah yang mempengaruhi kondisi fisik dan mental mereka keesokan harinya.
Tak hanya pria, kualitas tidur wanita juga terganggu ketika tidur bersama pasangannya, namun hasil tes koginitif wanita tetap lebih baik ketimbang rekan lawan jenisnya.
Soal kenyamanan, pria dalam penelitian ini mengaku lebih nyaman ketika tidur dengan pasangannya. Sedangkan wanita merasa tidurnya lebih nyenyak ketika ia tidur sendirian.
Setelah tidur sendirian, wanita juga lebih mudah mengingat mimpinya. Berbeda dengan para pria yang ingatannya akan mimpi mencapai tahap paling baik seusai bercinta dengan pasanganya.
Tidak mengherankan jika seseorang terganggu ketika mereka tidur bersama. Tidur adalah kegiatan paling egois yang bisa dilakukan. Tidur sangat penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental, jelas Dr Neil Stanley, Ilmuwan dari University of Surrey
Sabtu, 01 Agustus 2009
Orang Boros menikah dengan tukang menabung dan sebaliknya
Orang yang rajin menabung ternyata cenderung menikah dengan tukang belanja. Begitu pula sebaliknya, menurut para peneliti Northwestern University, Amerika Serikat, pemboros cenderung menikah dengan tukang menabung.
"Survei dari orang dewasa yang menikah memperlihatkan bahwa reaksi emosi lawan jenis berkebalikan jika menyangkut kebiasaan belanja," ungkap laporan ilmiah yang ditulis Scott Rick dan Deborah Small, peneliti dari Fakultas Keuangan.
Dalam surveinya, mereka membagi orang dalam dua kelompok. Yang pertama, mereka yang belanja lebih banyak dari semestinya. Yang kedua, mereka yang berbelanja lebih sedikit dari seharusnya. Hasilnya, dua kelompok itu ternyata cenderung menikah satu dengan yang lain. Masih belum jelas mengapa mereka memilih tipe orang berbeda. Mungkin saja mereka benci dengan karakter miliknya. Jadi, saat memilih pasangan mereka reflek mencari yang kebalikannya.
Anehnya lagi, saat masih lajang mereka mengatakan akan mencari jodoh orang yang setipe. Shopaholic akan mencari orang yang irit duit dan tukang menabung akan mencari pasangan mereka yang pemboros.
Penelitian lain, oleh George Loewenstein, profesor ekonomi dan psikologi dari Universitas Carnegie Mellon, Amerika Serikat, dari tahun lalu, juga memperlihatkan hal serupa.
Loewenstein membagi orang dalam dua kelompok. Mereka mengukur "derajad rasa pedih saat membayar". Jika mereka perasaan pedih itu kecil, berarti mereka termasuk kelompok tukang belanja. Sedang mereka yang merasa saat membayar berasa pedih sekali, masuk kelompok tukang menabung.
Yang juga belum diketahui penyebabnya, orang boros tidak bisa berubah menjadi irit dan sebaliknya. Orang irit tidak bisa berubah menjadi boros. "Mungkin penyebabnya keturunan," kata Loewenstein.
"Survei dari orang dewasa yang menikah memperlihatkan bahwa reaksi emosi lawan jenis berkebalikan jika menyangkut kebiasaan belanja," ungkap laporan ilmiah yang ditulis Scott Rick dan Deborah Small, peneliti dari Fakultas Keuangan.
Dalam surveinya, mereka membagi orang dalam dua kelompok. Yang pertama, mereka yang belanja lebih banyak dari semestinya. Yang kedua, mereka yang berbelanja lebih sedikit dari seharusnya. Hasilnya, dua kelompok itu ternyata cenderung menikah satu dengan yang lain. Masih belum jelas mengapa mereka memilih tipe orang berbeda. Mungkin saja mereka benci dengan karakter miliknya. Jadi, saat memilih pasangan mereka reflek mencari yang kebalikannya.
Anehnya lagi, saat masih lajang mereka mengatakan akan mencari jodoh orang yang setipe. Shopaholic akan mencari orang yang irit duit dan tukang menabung akan mencari pasangan mereka yang pemboros.
Penelitian lain, oleh George Loewenstein, profesor ekonomi dan psikologi dari Universitas Carnegie Mellon, Amerika Serikat, dari tahun lalu, juga memperlihatkan hal serupa.
Loewenstein membagi orang dalam dua kelompok. Mereka mengukur "derajad rasa pedih saat membayar". Jika mereka perasaan pedih itu kecil, berarti mereka termasuk kelompok tukang belanja. Sedang mereka yang merasa saat membayar berasa pedih sekali, masuk kelompok tukang menabung.
Yang juga belum diketahui penyebabnya, orang boros tidak bisa berubah menjadi irit dan sebaliknya. Orang irit tidak bisa berubah menjadi boros. "Mungkin penyebabnya keturunan," kata Loewenstein.
Makanan Organik tak lebih baik
Berdasarkan sebuah penelitian di Inggris, erbukti bahwa makanan organic tak lebih bernutrisi atau lebih sehat disbanding makanan bias. Penelitian berskala besar itu dipublikasikan Rabu lalu.
Para peneliti dari London School of Hygiene & Tropical Medicine mengatakan konsumen makanan organic selama ini telah membayar mahal karena percaya akan manfaat kesehatannya. Ini telah membentuk pasar makanan organic global yang diperkirakan bernilai hingga $ 84 milyar di tahun 2007.
Pengkajian sistematik terhadap laporan 162 penelitian yang dipubliksikan selama lebih dari 50 tahun, justru membuktikann tak ada beda signifikan antara produk organic dan biasa.
Memang ada sejumlah kecil perbedaan kandungan nutrisi yang ditemukan di produk organic, namun relevansinya ini tidak seperti anggapan masyarakat, kata Alan Dangour, salah seorang peneliti.
Penelitian kami mengindikasikan saat ini tak ada bukti berbasis keunggulan nutrisi yang mendukung bahwa sejumlah produk organic punya kelebihan disbanding produk makanan konvensional. Hasil penelitian yang diprakarsai oleh lembaga pemerintah Inggris, Food Standards Agency ini akan dipublikasikan juga di American Journal of Clinical Nutrition. REUTERS
Para peneliti dari London School of Hygiene & Tropical Medicine mengatakan konsumen makanan organic selama ini telah membayar mahal karena percaya akan manfaat kesehatannya. Ini telah membentuk pasar makanan organic global yang diperkirakan bernilai hingga $ 84 milyar di tahun 2007.
Pengkajian sistematik terhadap laporan 162 penelitian yang dipubliksikan selama lebih dari 50 tahun, justru membuktikann tak ada beda signifikan antara produk organic dan biasa.
Memang ada sejumlah kecil perbedaan kandungan nutrisi yang ditemukan di produk organic, namun relevansinya ini tidak seperti anggapan masyarakat, kata Alan Dangour, salah seorang peneliti.
Penelitian kami mengindikasikan saat ini tak ada bukti berbasis keunggulan nutrisi yang mendukung bahwa sejumlah produk organic punya kelebihan disbanding produk makanan konvensional. Hasil penelitian yang diprakarsai oleh lembaga pemerintah Inggris, Food Standards Agency ini akan dipublikasikan juga di American Journal of Clinical Nutrition. REUTERS
Langganan:
Postingan (Atom)