Tampilkan postingan dengan label Others. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Others. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Mei 2009

Damai atau Perang Tentukan wajah presiden maskulin or Feminim


Ciri seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik mungkin terpahat pada wajahnya, namun siapa di antara pria atau perempuan itu yang terpilih tampaknya ditentukan oleh kondisi negara tersebut. Untuk melihat apakah karakteristik wajah mempengaruhi pemilihan seorang presiden atau kepala negara, Brian Spisak dan Mark Van Vugt di University of Kent, Inggris, memanipulasi foto-foto wajah pria dan wanita di komputer untuk membuat tampang mereka terlihat lebih maskulin atau feminin.
Mereka menanyai 118 sukarelawan untuk memilih salah satu di antaranya sebagai seorang pemimpin dalam berbagai skenario. Merreka diminta memilih pemimpin mana yang cocok selama masa perang; ketika harus menjaga perdamaian di antara dua kelompok; selama periode transisi; untuk memelihara stabilitas setelah bencana alam; dan ketika negara itu menghadapi risiko perang sipil.
Para peneliti juga mengubah wajah pria dan wanita itu agar tampak lebih muda atau lebih tua, dan bertanya kepada 145 sukarelawan untuk memilih seorang pemimpin dalam skenario serupa.
Dalam masa negara dilanda peperangan, para sukarelawan lebih menyukai pemimpin berwajah maskulin atau lebih tua, sebaliknya mereka memilih wajah feminin ketika pemeliharaan perdamaian antar kelompok menjadi prioritas. Yang menarik, urusan gender sama sekali tak dihiraukan para sukarelawan, perempuan berwajah maskulin mendapat lebih banyak dukungan dibandingkan pria yang berwajah feminin pada masa perang, begitu pula sebaliknya.
"Ini menunjukkan bahwa klasifikasi tradisional yang mengkotak-kotakkan pria dan wanita bukan isyarat relevan seperti yang kita bayangkan selama ini," kata Spisak dalam pertemuan European Human Behaviour and Evolution Association di St Andrews, Inggris, awal April.
Studi sebelumnya telah memberi petunjuk bahwa para pemilih lebih menyukai pemimpin bertampang maskulin di masa perang, karena tipe wajah ini diasosiasikan dengan watak dominan dan tegas dalam mengambil keputusan, kata Alexander Todorov dari Princeton University. "Yang baru di sini adalah baik maskulinitas atau femininitas, yang secara alami berkorelasi dengan gender, masih mempengaruhi pengambilan keputusan bahkan ketika tidak dikaitkan dengan gender."
Spisak dan Van Vugt juga menemukan bahwa paras muda lebih disukai pada masa transisi dan stabilitas, dengan perempuan muda sebagai pilihan teratas.
Spisak yakin karakteristik wajah kemungkinan besar telah memainkan peran dalam pemlihan presiden Amerika Serikat yang lalu, meski ada faktor lain yang juga terlibat di dalamnya. "Obama lebih mudah dijual," katanya. "Dia kandidat yang relatif lebih muda, dan dia berpegang pada pesan perubahan dan peralihan. Jika McCain mengampanyekan pesan perang yang lebih kuat dan konsisten, mungkin dia memiliki peluang yang lebih baik untuk menang."

Minggu, 19 April 2009

Senyum di Masa Kecil: Tanda Perkawinan Bahagia

Senyum di Masa Kecil: Tanda Perkawinan Bahagia

Tersenyumlah setiap kali di depan kamera. Karena menurut penelitian terbaru, foto-foto tersenyum Anda itu bisa menjadi kunci penunjuk menuju perkawinan bahagia. Bahkan foto-foto Anda dari jaman sekolah dulu ternyata amat penting kontribusinya untuk mengukur seberapa peluang Anda akan mampu menjalani perkawinan bahagia saat ini.

Peneliti dari DePauw University di Indiana baru saja menemukan korelasi antara gara-gara kurang senyum semasa foto jaman kanak-kanak dan peluang mengalami perceraian semasa kehidupan dewasa. Para peneliti melakukan penelitian pada koleksi foto-foto semasa sekolah dari kelas 1 sampai kelas 10 dan menemukan bahwa tak ada satupun dari 10 persen orang yang selalu tersenyum dalam foto-foto dimasa kanak-kanaknya itu yang mengalami perceraian. Dan lebih dari 10 orang yang tegang di dalam foto-fotonya yang mengalami gagal perkawinan.

Penelitian selanjutnya meminta kepada orang-orang yang telah berumur 65 tahun keatas untuk mengumpulkan foto-foto mereka semasa sekolah dan menemukan bahwa hanya 11 persen dari mereka yang selalu tersenyum sewaktu difoto yang mengalami perceraian, sedangkan 31 persen orang yang tegang dan tampak serius dalam foto-fotonya semasa sekolah mengalami gagal kawin.

Para peneliti berkesimpulan bahwa orang yang berkerut dahi ketika foto semasa anak-anak memiliki kemungkinan untuk mengalami perceraian kelak sesudah kawin, lima kali lebih besar dibanding dengan yang selalu tersenyum dalam foto kanak-kanaknya.

"Mungkin senyum seseorang akan membuat senang orang lain. Dan kombinasi keduanya akan membuat perkawinan lebih langgeng," ujar Matt Herstenstein, salah seorang peneliti.

Herstenstein juga membuat kesimpulan bahwa senyum di depan kamera mengindikasikan seseorang yang patuh dan mempunyai personaliti baik dan ini akan bisa menjadi modal untuk mengembangkan jaringan pertemanan yang lebih besar, sehingga menjadi kunci langgengnya sebuah perkawinan.

"Saya rasa hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa emosi yang positif adalah hal yang paling berharga dalam kehidupan kita. Ada banyak hal berharga yang dapat dihasilkan dari pribadi yang positif," ujar Herstenstein.