Sabtu, 01 Agustus 2009

Orang Boros menikah dengan tukang menabung dan sebaliknya

Orang yang rajin menabung ternyata cenderung menikah dengan tukang belanja. Begitu pula sebaliknya, menurut para peneliti Northwestern University, Amerika Serikat, pemboros cenderung menikah dengan tukang menabung.

"Survei dari orang dewasa yang menikah memperlihatkan bahwa reaksi emosi lawan jenis berkebalikan jika menyangkut kebiasaan belanja," ungkap laporan ilmiah yang ditulis Scott Rick dan Deborah Small, peneliti dari Fakultas Keuangan.

Dalam surveinya, mereka membagi orang dalam dua kelompok. Yang pertama, mereka yang belanja lebih banyak dari semestinya. Yang kedua, mereka yang berbelanja lebih sedikit dari seharusnya. Hasilnya, dua kelompok itu ternyata cenderung menikah satu dengan yang lain. Masih belum jelas mengapa mereka memilih tipe orang berbeda. Mungkin saja mereka benci dengan karakter miliknya. Jadi, saat memilih pasangan mereka reflek mencari yang kebalikannya.

Anehnya lagi, saat masih lajang mereka mengatakan akan mencari jodoh orang yang setipe. Shopaholic akan mencari orang yang irit duit dan tukang menabung akan mencari pasangan mereka yang pemboros.

Penelitian lain, oleh George Loewenstein, profesor ekonomi dan psikologi dari Universitas Carnegie Mellon, Amerika Serikat, dari tahun lalu, juga memperlihatkan hal serupa.

Loewenstein membagi orang dalam dua kelompok. Mereka mengukur "derajad rasa pedih saat membayar". Jika mereka perasaan pedih itu kecil, berarti mereka termasuk kelompok tukang belanja. Sedang mereka yang merasa saat membayar berasa pedih sekali, masuk kelompok tukang menabung.

Yang juga belum diketahui penyebabnya, orang boros tidak bisa berubah menjadi irit dan sebaliknya. Orang irit tidak bisa berubah menjadi boros. "Mungkin penyebabnya keturunan," kata Loewenstein.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar